J. Robert Oppenheimer Si “Bapak Bom Atom” yang Penuh Dilema

j robert oppenheimer
j robert oppenheimer

Kalau lo pernah denger kalimat legendaris ini:

“Now I am become Death, the destroyer of worlds.”

Itu bukan kutipan dari film atau anime, tapi dari seorang ilmuwan beneran — J. Robert Oppenheimer, sosok yang sering dijuluki sebagai “Bapak Bom Atom.”

Tapi jangan salah. Walaupun dia jadi tokoh penting di balik terciptanya senjata nuklir pertama dunia, hidup Oppenheimer jauh dari kata hitam-putih. Dia bukan villain, tapi juga bukan pahlawan biasa.

Yuk, kita kulik lebih dalam kisah hidup Oppenheimer dari masa kecil sampai akhir hidupnya yang penuh drama dan refleksi.

Kelahiran dan Masa Kecil Oppenheimer

Oppenheimer lahir di New York City, tanggal 22 April 1904. Nama lengkapnya: Julius Robert Oppenheimer.

Keluarganya adalah imigran Yahudi dari Jerman, yang cukup berada. Ayahnya, seorang pengusaha tekstil sukses, dan ibunya seorang seniman.

Sejak kecil, Oppenheimer udah nunjukin tanda-tanda anak ajaib. Dia lebih suka baca buku berat dibanding main layangan. Bahkan di usia muda, dia udah baca karya-karya sastra, filsafat, dan sains yang bikin kepala orang dewasa pun pusing.

Intinya: nerdy sejak lahir.

Pendidikan: Dari Harvard ke Eropa

Waktu kuliah, Oppenheimer masuk Harvard University dan menyelesaikan studinya hanya dalam tiga tahun. Gokil kan?

Setelah itu, dia lanjut ke Eropa buat belajar fisika teoretis — yang saat itu emang lagi booming karena munculnya teori kuantum dan relativitas. Dia belajar di bawah bimbingan tokoh-tokoh legendaris seperti Max Born di Göttingen, Jerman.

Dan lo tau apa? Dia sempat depresi berat gara-gara tekanan akademik dan ketidakpuasan diri. Di satu momen, dia bahkan nyaris melakukan hal yang sangat ekstrem ke sesama ilmuwan — tapi akhirnya bisa ditenangkan dan kembali ke jalur yang benar.

Hidupnya dari dulu memang penuh drama.

Karier Akademik dan Daya Tarik Sosialnya

Setelah balik ke Amerika, Oppenheimer mulai mengajar di Caltech dan University of California, Berkeley. Dia bukan cuma jenius di bidang fisika, tapi juga punya karisma tinggi.

Meski kelihatan nerdy, Oppenheimer ternyata punya sisi yang “cool”:

✔ Fasih banyak bahasa, termasuk Sanskerta
✔ Ngobrolnya sering nyambung ke filsafat dan sastra
✔ Dikenal ganteng dan charming oleh banyak mahasiswi
✔ Jago ngutip puisi pas lagi diskusi soal nuklir — seriusan

Dia seperti hybrid antara ilmuwan, filsuf, dan penyair.

Tapi, semua ini berubah saat Perang Dunia II mulai memanas…

Proyek Manhattan: Ketika Oppenheimer Jadi Pusat Dunia

Setelah Jerman mulai agresif di Eropa dan ada desas-desus bahwa mereka sedang mengembangkan senjata nuklir, Amerika nggak mau tinggal diam. Maka dibentuklah Proyek Manhattan — proyek super rahasia untuk bikin bom atom duluan.

Dan siapa yang ditunjuk jadi kepala ilmiahnya? Yap, Oppenheimer.

Bayangin, seorang profesor yang awalnya suka ngobrolin puisi dan teori atom, tiba-tiba dikasih tugas bikin senjata pemusnah massal.

Tapi Oppenheimer nggak lari dari tugas itu. Dia langsung gas pol — mimpin ratusan ilmuwan, insinyur, dan teknisi di Los Alamos, New Mexico. Di sanalah, sejarah dibuat.

Trinity Test: Bom Pertama Meledak

Tanggal 16 Juli 1945, bom atom pertama di dunia diuji coba di Gurun New Mexico. Nama kodenya: “Trinity Test.”

Saat cahayanya menyala terang dan ledakannya mengguncang bumi, semua orang terpana. Tapi Oppenheimer langsung teringat pada kutipan dari kitab Hindu, Bhagavad Gita:

“Now I am become Death, the destroyer of worlds.”

Ini bukan kalimat keren-kerenan. Ini adalah ekspresi dari kesadaran mendalam bahwa dia baru saja menciptakan kekuatan yang bisa memusnahkan umat manusia.

Bom Dijatuhkan di Jepang: Hancur Hati Oppenheimer

Tak lama setelah Trinity Test, dua bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Hasilnya: puluhan ribu jiwa meninggal dalam hitungan detik.

Oppenheimer yang awalnya merasa proyek ini sebagai bentuk “penyelamatan dunia dari Nazi” mulai berubah. Dia merasa bersalah dan mulai menyesal.

Waktu ketemu Presiden Harry S. Truman, Oppenheimer bilang,

“Mr. President, I feel I have blood on my hands.”

Dan Truman langsung kesal berat, sampai bilang,

“Don’t ever bring that crybaby back in here.”

Dari situ, Oppenheimer mulai dijauhi oleh para petinggi militer dan pemerintah.

Masa Setelah Perang: Dicap “Komunis” dan Disingkirkan

Setelah perang, Oppenheimer jadi aktivis perdamaian. Dia menentang pengembangan bom hidrogen (yang lebih kuat dari bom atom). Tapi karena pandangan politiknya, dan kedekatannya dengan beberapa tokoh yang beraliran kiri, dia mulai dicurigai sebagai simpatisan komunis.

Tahun 1954, dia diadili dalam sidang keamanan dan dicabut hak akses ke dokumen rahasia pemerintah. Padahal, dia udah berjasa besar buat Amerika.

Ibaratnya:
Dulu dielu-elukan sebagai pahlawan, sekarang dibuang kayak debu.

Akhir Hidup Oppenheimer: Hidup Tenang Tapi Penuh Refleksi

Setelah dicabut aksesnya, Oppenheimer memilih untuk mengajar dan menulis. Dia banyak merenungkan soal etika sains dan peran ilmuwan dalam dunia modern.

Dia wafat pada 18 Februari 1967, akibat kanker tenggorokan karena kebiasaan merokoknya yang berat.

Tapi, warisannya nggak berhenti di situ.

Tahun 2022, Presiden AS Joe Biden secara simbolis membatalkan keputusan pencabutan hak aksesnya di tahun 1954. Sebuah bentuk pengakuan bahwa Oppenheimer adalah tokoh penting dan layak dihormati.

Pelajaran dari Kisah Oppenheimer

Kisah J Robert Oppenheimer adalah contoh nyata bahwa hidup nggak selalu tentang benar atau salah. Dunia sains bukan cuma soal rumus dan teknologi — tapi juga soal etika, moralitas, dan tanggung jawab.

Beberapa pelajaran penting dari hidupnya:

✔ Jenius pun bisa salah jalan, tapi juga bisa berubah
✔ Ilmuwan punya kekuatan besar, tapi juga beban besar
✔ Tidak semua “pahlawan” hidup bahagia selamanya

Oppenheimer bukan tokoh yang sempurna. Tapi justru itu yang bikin dia menarik: manusiawi, kompleks, dan penuh dilema.

Scroll to Top