
Kalau ngomongin filsafat, nama Socrates pasti langsung kepikiran. Tapi anehnya, dia nggak pernah nulis buku atau bikin catatan. Semua yang kita tahu tentang dia datang dari murid-muridnya, terutama Plato.
Yang bikin Socrates unik bukan cuma pemikirannya, tapi juga gaya hidupnya. Dia lebih suka nongkrong di pasar, ngobrol sama orang-orang, dan nanya hal-hal aneh yang bikin orang bingung atau marah.
Bahkan, dia sampai dihukum mati karena pertanyaannya dianggap merusak moral anak muda dan menentang dewa-dewa Yunani.
Tapi gimana sih kisah hidup Socrates dari awal sampai akhir? Yuk, kita bahas!
Masa Muda Socrates: Bukan Anak Sultan, Tapi Punya Otak Tajam
Socrates lahir sekitar 470 SM di Athena, Yunani. Dia bukan anak orang kaya—bapaknya tukang batu, ibunya bidan.
Sejak kecil, dia udah keliatan beda dari anak-anak lain. Alih-alih sibuk cari uang atau perang, dia malah suka mikir dan bertanya-tanya tentang hidup.
Walaupun nggak punya pendidikan formal, Socrates belajar sendiri dari para filsuf sebelumnya dan mulai mengembangkan cara berpikir kritis.
Jadi Prajurit dan Tukang Debat di Jalanan
Sebelum terkenal sebagai filsuf, Socrates sempat jadi prajurit. Dia ikut beberapa perang, dan terkenal sebagai pejuang tangguh yang nggak takut mati.
Tapi setelah pensiun dari militer, dia nggak ngikutin jalan hidup biasa. Bukannya jadi pedagang atau politikus, dia malah keluyuran di jalanan Athena, ngobrol sama siapa aja, dan mengajukan pertanyaan aneh-aneh.
Metode ini dikenal sebagai Metode Socrates, yang intinya adalah:
-
Tanya pertanyaan dasar yang bikin orang mikir ulang keyakinannya.
-
Terus tanyain sampai mereka sadar kalau mereka nggak tahu apa-apa.
Contoh: Kalau ada orang bilang “Keadilan itu penting!”, Socrates bakal nanya “Tapi keadilan itu sebenarnya apa?” dan terus ngegas sampai orang itu bingung sendiri.
Mengajar Tanpa Sekolah, Jadi Guru Tanpa Bayaran
Berbeda dari filsuf lain yang buka sekolah atau nulis buku, Socrates cuma ngobrol dan debat buat ngajarin orang berpikir.
Dia nggak pernah minta bayaran, tapi banyak anak muda cerdas yang ngefans sama dia, termasuk Plato dan Xenophon, yang nantinya bakal nulis semua pemikirannya.
Tapi metode ngajarnya juga bikin dia banyak musuh, terutama dari politikus dan orang-orang kaya yang ngerasa direndahkan waktu debat sama dia.
Ditangkap dan Dihukum Mati Karena “Merusak Anak Muda”
Ketika Athena mulai mengalami krisis politik, banyak orang mulai nyari kambing hitam. Socrates, dengan mulutnya yang nggak bisa diem dan kritikannya yang pedas, akhirnya kena batunya.
Dia dituduh:
✔ Menyesatkan anak muda dengan ngajarin mereka berpikir kritis.
✔ Menolak dewa-dewa Yunani dan bikin ajaran baru.
Di pengadilan, Socrates punya pilihan:
✅ Minta maaf dan berhenti ngajarin filsafat.
❌ Tetap ngomong jujur dan hadapi hukuman mati.
Tebak dia pilih yang mana?
Dia nggak mau kompromi. Buatnya, lebih baik mati daripada berhenti mencari kebenaran.
Akhirnya, dia dijatuhi hukuman mati dengan cara minum racun (hemlock) di tahun 399 SM.
Kenapa Socrates Begitu Berpengaruh?
Meski mati dengan tragis, pemikiran Socrates justru jadi makin terkenal setelah kematiannya. Kenapa?
-
Murah Senyum, Tapi Tajam
– Socrates selalu bikin orang ketawa di awal, tapi akhirnya malah bikin mereka bingung dan berpikir keras. -
Metode Tanya-Jawabnya Masih Dipakai di Sekolah Sampai Sekarang
– Cara ngajarnya (Metode Socrates) masih jadi dasar dalam pendidikan dan debat. -
Plato dan Aristoteles Melanjutkan Warisannya
– Muridnya, Plato, mendirikan Akademi Athena, yang nantinya ngajarin Aristoteles—dan dari Aristoteles, filsafat menyebar ke seluruh dunia.
Socrates, Si Pembangkang yang Mengubah Dunia
Dari tukang debat di jalanan sampai dihukum mati karena terlalu pintar, Socrates adalah bukti bahwa berpikir kritis itu bisa mengubah dunia—tapi juga bisa bikin lo banyak musuh.
Meskipun begitu, warisannya hidup terus. Filosofinya mengajarkan kita buat jangan gampang percaya sesuatu tanpa bertanya, dan selalu cari kebenaran bahkan kalau itu nggak nyaman.
Jadi, kalau lo pernah nanya hal-hal kayak:
🔹 Kenapa dunia begini?
🔹 Apa arti hidup?
🔹 Apakah keadilan itu beneran ada?
Selamat! Lo udah mulai mikir kayak Socrates. Jangan berhenti bertanya!