Mr. Assaat, mungkin namanya tidak banyak orang yang mengetahuinya, tetapi dibalik Indonesia yang sekarang terdapat nama Mr. Assaat, Pemimpin di Masa Sulit Nama Yang Terpinggirkan, mari kita bahas lebih dalam lagi.

Siapa Mr. Assaat?
Mr. Assaat adalah Assaat Datuk Mudo, seorang tokoh nasional Indonesia yang pernah menjabat sebagai Pemangku Jabatan Presiden Republik Indonesia pada masa transisi yang sangat penting, tetapi namanya relatif jarang dikenal oleh masyarakat luas.
Mr. Assaat Datuk Mudo lahir pada 18 September 1904 di Agam, Sumatera Barat.
Gelar Mr. di depan namanya bukan sapaan kehormatan, melainkan gelar akademik Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) yang ia peroleh dari Universitas Leiden, Belanda. Ia berasal dari lingkungan Minangkabau dan aktif dalam pergerakan nasional sejak muda.
Baca Juga : Sjafruddin Prawiranegara, Penyelamat Republik Saat Negara Hampir Runtuh
Peran Politik di Indonesia Merdeka
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia memasuki masa yang sangat sulit. Selain harus mempertahankan kemerdekaan dari ancaman Belanda yang ingin kembali berkuasa, Indonesia juga dihadapkan pada tantangan besar dalam membangun sistem pemerintahan yang stabil. Dalam situasi inilah Mr. Assaat Datuk Mudo tampil sebagai salah satu tokoh penting di balik layar politik Indonesia merdeka.
Pada masa awal kemerdekaan, Assaat aktif dalam lembaga perwakilan rakyat. Ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), lembaga yang berfungsi sebagai badan legislatif sementara sebelum terbentuknya parlemen resmi. Posisi ini sangat strategis karena BP-KNIP berperan dalam merumuskan arah kebijakan negara, mengawasi jalannya pemerintahan, serta menjadi wadah aspirasi rakyat di tengah situasi revolusi.
Sebagai Ketua BP-KNIP, Assaat dikenal tegas, rasional, dan menjunjung tinggi prinsip demokrasi. Ia ikut terlibat dalam berbagai keputusan penting yang berkaitan dengan sistem pemerintahan, hubungan antara eksekutif dan legislatif, serta upaya menjaga keutuhan Republik Indonesia.
Ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II pada tahun 1948, situasi politik Indonesia semakin genting. Banyak pemimpin nasional, termasuk Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta, ditangkap dan diasingkan. Dalam kondisi tersebut, struktur pemerintahan hampir lumpuh.
Walaupun tidak menjadi bagian dari Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin Sjafruddin Prawiranegara di Sumatera, Assaat tetap menjadi bagian penting dari elite politik nasional yang menjaga legitimasi Republik Indonesia di berbagai forum politik dan diplomatik.
Peran politik Mr. Assaat mencapai puncaknya setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949, ketika Indonesia berubah menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS). Dalam sistem federal ini, Soekarno diangkat sebagai Presiden RIS, sementara Republik Indonesia (RI) tetap ada sebagai salah satu negara bagian dengan ibu kota di Yogyakarta.
Untuk menghindari kekosongan kekuasaan di tubuh Republik Indonesia, Mr. Assaat ditunjuk sebagai Pemangku Jabatan Presiden Republik Indonesia pada 27 Desember 1949. Jabatan ini sangat krusial karena ia bertugas menjaga kelangsungan pemerintahan RI di tengah struktur negara yang terpecah-pecah akibat sistem federal buatan Belanda.
Sebagai pemangku jabatan presiden, Assaat menjalankan fungsi eksekutif dan simbol kedaulatan Republik Indonesia hingga RIS dibubarkan dan Indonesia kembali ke bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 15 Agustus 1950.
Setelah Indonesia kembali menjadi negara kesatuan, Mr. Assaat tidak lagi menjabat sebagai kepala negara, tetapi tetap aktif dalam pemerintahan. Ia dipercaya menjadi Menteri Dalam Negeri dalam Kabinet Natsir (1950–1951). Dalam posisi ini, ia berperan dalam penataan administrasi pemerintahan daerah serta memperkuat sistem birokrasi negara yang masih sangat muda.
Mengapa Jarang Dikenal
Meski pernah memegang jabatan sangat penting dalam sejarah Indonesia, nama Mr. Assaat Datuk Mudo relatif jarang disebut ketika membahas para presiden atau tokoh besar bangsa. Ada beberapa faktor historis dan politik yang membuat perannya seakan terpinggirkan dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia.
Jabatan Presiden yang Bersifat Sementara, Alasan utama mengapa nama Assaat jarang dikenal adalah karena status jabatannya sebagai Pemangku Jabatan Presiden Republik Indonesia, bukan presiden definitif. Ia memimpin Republik Indonesia hanya dalam masa transisi, yaitu antara 27 Desember 1949 hingga 15 Agustus 1950, ketika Indonesia berada dalam bentuk Republik Indonesia Serikat (RIS).
Karena sifatnya sementara dan terjadi di tengah perubahan sistem negara, masa kepemimpinan Mr. Assaat sering dianggap sebagai pengecualian dalam sejarah, bukan sebagai bagian utama dari daftar presiden Indonesia.
Terjadi pada Masa Republik Indonesia Serikat (RIS), Era RIS merupakan periode yang singkat dan rumit dalam sejarah Indonesia. Sistem federal ini lahir sebagai hasil kompromi politik dengan Belanda setelah Konferensi Meja Bundar. Dalam struktur RIS, Republik Indonesia hanya menjadi salah satu negara bagian, sementara Presiden RIS adalah Soekarno.
Akibatnya, jabatan Mr. Assaat sebagai pemimpin Republik Indonesia dianggap berada di bawah struktur negara federal, sehingga perannya sering dipandang kurang penting dibandingkan Presiden RIS. Hal ini membuat kontribusinya kurang mendapat tempat dalam narasi sejarah nasional.
Tidak Masuk Daftar Resmi Presiden Republik Indonesia, Dalam catatan resmi negara, daftar Presiden Republik Indonesia biasanya dimulai dari Soekarno hingga presiden-presiden berikutnya. Nama Mr. Assaat tidak dicantumkan karena jabatannya dianggap sebagai pemangku jabatan dalam sistem RIS, bukan presiden RI dalam konteks NKRI.
Ketidakhadirannya dalam daftar resmi ini berdampak besar terhadap tingkat pengenalan publik, terutama dalam buku pelajaran sekolah dan kurikulum sejarah nasional.
Dominasi Narasi Tokoh Besar, Sejarah Indonesia sangat didominasi oleh figur besar seperti Soekarno dan Mohammad Hatta. Keduanya memiliki peran yang sangat menonjol, baik sebagai proklamator maupun pemimpin nasional. Dalam narasi besar tersebut, tokoh-tokoh transisi seperti Mr. Assaat sering kali tenggelam dan tidak mendapat porsi pembahasan yang seimbang.
Akibatnya, masyarakat lebih mengenal tokoh utama, sementara figur pendukung yang perannya tak kalah penting jarang disorot.
Perjalanan Politik yang Kontroversial di Akhir Hidup, Pada tahun-tahun berikutnya, Mr. Assaat sempat terlibat dalam dinamika politik yang sensitif, termasuk keterkaitannya dengan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Hal ini membuat namanya kurang diangkat pada masa Orde Lama dan Orde Baru, karena dianggap berseberangan dengan pemerintah pusat pada saat itu.
Situasi politik ini turut memengaruhi bagaimana sejarah mencatat dan menampilkan sosok Mr. Assaat. Nama Mr. Assaat jarang dikenal bukan karena jasanya kecil, melainkan karena ia berada di posisi sejarah yang rumit—masa transisi, sistem negara sementara, dan dinamika politik yang kompleks. Padahal, perannya sebagai pemimpin Republik Indonesia di masa kritis sangat penting untuk menjaga kesinambungan pemerintahan dan kedaulatan negara.
Bagaimana menurut kalian tentang Mr. Assaat, Pemimpin di Masa Sulit Nama Yang Terpinggirkan, sebelum Assaat ada juga yang pernah memegang PJ Presiden yaitu Sjafruddin Prawiranegara.

