Sjafruddin Prawiranegara, Penyelamat Republik Saat Negara Hampir Runtuh

Sjafruddin Prawiranegara, Mungkin sosok ini tidak banyak diketahui oleh semua kalangan, tetapi sosok Sjafruddin Prawiranegara mempunyai jejak riwarat penting bagi Negara Indonesia, mari kita bahas lebih dalam tentang Sjafruddin Prawiranegara, Penyelamat Republik Saat Negara Hampir Runtuh.

Sjafruddin Prawiranegara

Siapa Sjafruddin Prawiranegara?

Sjafruddin Prawiranegara lahir pada 28 Februari 1911 di Anyer, Banten. Ia berasal dari keluarga terdidik yang menaruh perhatian besar pada pendidikan. Sejak muda, Sjafruddin dikenal sebagai sosok yang cerdas, disiplin, dan memiliki pemikiran kritis.

Pendidikan formalnya ditempuh pada masa Hindia Belanda. Ia mengenyam pendidikan hukum dan ekonomi, yang kelak membentuknya menjadi seorang ekonom dan negarawan ulung. Latar belakang pendidikannya inilah yang membuatnya dipercaya mengisi posisi strategis setelah Indonesia merdeka.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Sjafruddin aktif terlibat dalam pemerintahan Republik Indonesia. Ia dipercaya mengisi berbagai jabatan penting, terutama yang berkaitan dengan keuangan dan kebijakan negara.

Namun, peran terbesarnya justru terjadi saat Indonesia berada di titik paling genting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Baca Juga : Muammar Khadafi, Sang Kolonel yang Menantang Barat

Agresi Militer Belanda II dan Lahirnya PDRI

Pada 19 Desember 1948, Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II dengan menyerang Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia saat itu. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan sejumlah pemimpin nasional ditangkap dan diasingkan.

Situasi ini sangat berbahaya. Dunia internasional mengira bahwa Republik Indonesia telah kalah dan tidak lagi memiliki pemerintahan yang sah.

Sjafruddin Prawiranegara saat itu berada di Sumatra Barat. Berdasarkan mandat dan kesepakatan para pemimpin Republik yang tidak tertangkap, pada 22 Desember 1948 ia membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi.

Sjafruddin ditunjuk sebagai Ketua PDRI, yang dalam praktiknya menjalankan fungsi kepala pemerintahan dan kepala negara. Karena itulah, banyak sejarawan menyebutnya sebagai presiden de facto Indonesia pada masa tersebut.

Tugas dan Tanggung Jawab

Sebagai Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada tahun 1948–1949, Sjafruddin Prawiranegara memikul tanggung jawab besar untuk menjaga keberlangsungan Republik Indonesia di tengah situasi perang dan krisis nasional.

Menjalankan roda pemerintahan negara, Sjafruddin bertanggung jawab memastikan bahwa pemerintahan Republik Indonesia tetap berjalan, meskipun Presiden dan Wakil Presiden ditawan Belanda. Ia mengambil alih fungsi kepemimpinan negara agar tidak terjadi kekosongan kekuasaan.

Menjaga keberlangsungan republik Indonesia, Tugas utama Sjafruddin adalah menjaga eksistensi Republik Indonesia. Dengan adanya PDRI, dunia internasional tidak dapat menganggap bahwa Indonesia telah runtuh atau menyerah kepada Belanda.

Mengoordinasikan perlawanan dan pemerintahan daerah, Sjafruddin mengoordinasikan hubungan antara pemerintah pusat darurat dengan Panglima dan pasukan militer, Pemerintahan daerah dan Tokoh perjuangan di berbagai wilayah. Koordinasi ini penting agar perjuangan bersenjata dan pemerintahan tetap satu arah dan tidak terpecah.

Menjaga komunikasi dan informasi, Dalam kondisi komunikasi yang sangat terbatas, Sjafruddin bertanggung jawab menjaga jalur komunikasi rahasia antar wilayah. Informasi tentang keberadaan dan aktivitas PDRI harus dijaga agar tidak diketahui Belanda.

Menjaga legitimasi Indonesia di mata Internasional, Sjafruddin memastikan bahwa dunia internasional mengetahui bahwa Republik Indonesia masih ada, Pemerintah Indonesia masih berfungsi dan Perjuangan Indonesia memiliki dasar hukum dan legitimasi Hal ini sangat membantu posisi Indonesia dalam perjuangan diplomasi melawan Belanda.

Mengambil keputusan strategis dalam kondisi darurat, Sebagai pemimpin PDRI, Sjafruddin harus mengambil keputusan cepat dan tepat, Menyesuaikan kebijakan dengan kondisi lapangan dan Mengutamakan keselamatan perjuangan dan rakyat Semua keputusan diambil dalam kondisi penuh risiko dan tekanan militer.

Kondisi Menjelang Berakhirnya PDRI

Setelah terbentuk pada Desember 1948, Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di bawah kepemimpinan Sjafruddin Prawiranegara berhasil menjaga keberlangsungan Republik Indonesia di tengah tekanan militer Belanda.

Seiring berjalannya waktu, tekanan internasional terhadap Belanda semakin kuat. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan negara-negara lain mulai mendesak agar konflik Indonesia–Belanda diselesaikan melalui jalur diplomasi. Hal ini berdampak pada membaiknya posisi Indonesia di mata dunia internasional.

Pada pertengahan tahun 1949, sebagai hasil dari tekanan internasional dan perundingan diplomatik, Belanda akhirnya membebaskan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, serta para pemimpin Republik Indonesia lainnya yang sebelumnya ditawan.

Pembebasan ini menjadi tanda bahwa pemerintahan pusat Republik Indonesia dapat kembali menjalankan fungsinya secara normal.

Dengan kembalinya para pemimpin nasional, keberadaan PDRI tidak lagi diperlukan. Tujuan utama PDRI sejak awal memang hanya untuk mengisi kekosongan pemerintahan dan menjaga eksistensi negara dalam kondisi darurat.

Setelah memastikan bahwa pemerintahan pusat siap kembali memimpin, Sjafruddin Prawiranegara menyatakan berakhirnya PDRI pada tahun 1949.

Salah satu momen paling penting dalam sejarah PDRI adalah ketika Sjafruddin Prawiranegara secara resmi mengembalikan mandat kekuasaan kepada Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta.

Tindakan ini dilakukan secara sukarela, tanpa tekanan, dan menunjukkan bahwa Sjafruddin tidak berambisi mempertahankan kekuasaan, Menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi dan Memahami bahwa kekuasaan bersifat amanah, bukan tujuan Pengembalian mandat ini menandai kembalinya pemerintahan Republik Indonesia secara penuh.

Sebagai warga negara Indonesia seharusnya memiliki pengetahuan tentang masing masing dari pemimpin yang pernah mempin negara Indonesia, tetapi memang Sjafruddin Prawiranegara, Penyelamat Republik Saat Negara Hampir Runtuh tidak banyak diketahui oleh banyak orang karena kurangnya informasi yang jelas, namun sekarang internet sudah bisa menjelajah kemana saja.

Scroll to Top